Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2013

Momen

Kadang ada keinginan untuk mengungkapkan perasaan kepada seseorang yang kita cintai, tapi gak bisa. "Belum saatnya". Gue rasa alam semesta memiliki peran dalam setiap keputusan dan langkah manusia, apabila memang sudah saatnya maka alam semesta akan mendukung, memberikan energi positif, meng-cover dengan kenyamanan yang sempurna. Saat-saat seperti itu gue rasa disebut Momen.

Dari perjalanan hidup yang gak bagus-bagus amat, gue menyadari pembagian momen dalam kehidupan manusia. Masa kecil adalah momennya kita untuk bermain, alam memberikan keleluasaan kepada tiap anak untuk bermain, jiwa mereka adalah bermain. Remaja adalah momen dimana setiap anak leluasa mencari jati diri, alam semesta memberikan ruang untuk bergaul, berfikir, kadang sengaja menciptakan masalah-masalah konyol; berantem, iri, cemburu, maniak, obsesius, dll. Dewasa adalah momen dimana alam semesta memberikan ruang gerak yang penuh dengan masalah, solusi, dan pilihan dalam 3 dimensi ruang dan waktu, disini adalah momennya manusia untuk mengembangkan dirinya.

Terakhir adalah momen dimana alam memberikan ruang bebas untuk kita mewujudkan keinginan, tentunya alam semesta akan mendukung kalau kita melalui momen-momen sebelumnya dengan baik dan patuh. Disini kita akan bebas, penuh ketenangan, keberanian, dan kedewasaan untuk memilih seseorang pendamping, masa depan untuk cakupan kehidupan yang lebih luas (warisan), dan bagaimana cara kita mati.

Kadang manusia tidak sabar menunggu momen, sehingga mereka sedikit memaksa. Masih kecil bilangnya ingin cepat gede, masih remaja ingin melakukan hubungan orang dewasa, masih dalam proses dewasa ingin dianggap bijak. Belum bisa bertanggung jawab, udah berani bilang "lo milik gue", preeet!.

Jumat, 19 April 2013

Loyalitas



Gue kenal kata Loyalitas pas Kuliah, dari senior gue. Gini, gue lebih suka baca buku dari pada dengerin orang ngomong ke gue, pengalaman gue bilang kalau orang itu ngomong apa yang dia anggap bener sementara itu belum tentu bener di elo kemudian setiap orang sebagian besar selalu ingin orang mengikuti pola pikirnya agar dia lebih mudah memola keinginannya dan jika keinginannya buruk dan loe terpengaruh dengan kata-katanya maka lo ikut menjalankan keburukannya. Intinya semua orang punya doktrin dalam kata-katanya. Gak semua doktrin buruk, misal ibu lo nyuruh lo makan pagi biar sehat, “Nak makan pagi pake nasi biar sehat”, kata-kata ini selalu ibu ucapkan, selalu diulang-ulang, sehingga tanpa kita sadari itulah yang kita lakukan tiap pagi. Makan pagi, peke nasi, bukan roti.

Kalau baca buku lo bisa berfikir lebih panjang untuk mencerna sebuah kata-kata. Mungkin itulah kenapa Tuhan meninggalkan petunjuk dalam bentuk Kitab.

Loyalitas selalu dihubungkan dengan organisasi, organisasi bisa dalam bentuk keluarga, kelompok, atau band. Di dalam kelompok ada himpunan, biasanya dikalangan mahasiswa dipegang oleh senior, bukan ketua himpunan. Di dalam keluarga ada orang tua dan si anak tertua, di dalam band biasanya Ahmad Dhani, hehehe... 

Semua pemegang “kekuasaan ini” memberlakukan 2 pasal yang sama;
      1.  Mereka tidak pernah salah
2.  Bila mereka salah maka kembali ke pasal 1.

Intinya mereka merasa tidak pernah salah. Seolah pengalaman hidup mereka sama dengan pengalaman hidup kita, atau mungkin mereka ingin membuat kita merasakan pengalaman hidup seperti mereka, kasarnya, sebut saja, balas dendam.

Gue punya loyalitas, tapi bukan untuk organisasi, atau keluarga, loyalitas gue persembahkan untuk yang gue cintai; orang tua, keluarga, kekasih, passion, lebih besar lagi pada Tuhan.

Emang gak mudah mempertahankan yang kita cintai, banyak kok contohnya, misal pacar, lo bilang cinta kan tapi kenyataannya paling lama 1 tahun lo pacaran. Habis itu temenan lagi, bahkan ada yang jadi semacam musuh yang tak tertulis. Kalau lo mau mudah ya lo ikutin aja kata mereka, kata senior, kata dosen, kata pemerintah, kata yang tertua. Ngikut lebih enak daripada mimpin.

Gue rasa kita sudah cukup dewasa untuk menilai orang dari pesan dan ajakannya, lo boleh ikutin kata “mereka” kalau menurut lo itu baik, buang kalau itu buruk. Lo bisa ambil bagian-bagian dari seseorang, ambil bagian yang baiknya.  Kenyataannya kita yang terlahir saat ini sangat diuntungkan, kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah, dari yang sudah berlalu, kita tinggal pilih dan lo bebas milih, berfikir aman atau berfikir sehat.

Yang aman belum tentu sehat, yang sehat sudah pasti aman. : )))

Rabu, 17 April 2013

Yang kita ingin

"Aku tidak ingin menjadi orang yang mudah dilecehkan" (Cloud Atlas)

Yah, siapa yang mau dilecehkan. Setiap orang pasti pernah dilecehkan, tentunya karena perbuatan mereka sendiri. Biasanya perbuatan itu tidak disukai oleh yang melecehkan. Bisa jadi yang melecehkan lebih buruk, bisa jadi mereka lebih baik, tergantung elo.

Kebaikan dan keburukan sebenernya saling melecehkan, makanya mereka tidak pernah akur satu sama lain. Kalau terlihat akur itu mungkin bagian dari strategi yang ujung-ujungnya saling menjatuhkan. Kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah jika kita tidak benar-benar mencarinya. Kadang manusia itu terlalu takut untuk berdosa, sehingga mereka tidak pernah tahu asal usul kebenaran. Simpelnya, dari kejatuhan lo bisa sedikit menghargai pembangunan, dari perjuangan lo bisa tahu rasanya kemerdekaan. Itulah kenapa generasi awal selalu lebih baik dari generasi selanjutnya, itu karena mereka berjuang, sedangkan generasi selanjutnya hanya bisa menikmati.

Sangat sederhana, misalkan kita ambil contoh dari kehidupan sehari-hari saja. Banyak sekali anak muda, remaja, bahkan mahasiswa yang terlalu takut protes, takut untuk bilang "tidak" kepada kata-kata dosen sementara kepada orang tua mudah banget bilang "nggak".

Sebenernya, mahasiswa tahu kalau dosen itu membuat aturan yang suka mereka langgar sendiri; Dosen bilang jangan telat, pada kenyataannya dosen sering telat. Dosen bilang "fokus kuliah", pada kenyataannya dosen gak fokus-fokus amat ngajar kuliah (kadang lebih mentingin proyek, seminar, yang paling update adalah kenyataan bahwa dosen lebih mentingin jaga anak SMA UN dari pada ngasih kuliah mahasiswa). Lo tau itu semua karena apa??. Karena Uang. (titik). Pemerintah juga sih yang goblok, kalau sekedar buat nakut-nakutin anak UN gue rasa gak perlu dosen, preman banyak, lumayan bisa ngurangin jumlah preman pas UN.

Dari film Cloud Atlas ada satu pesan yang pas banget buat gambarin apa yang terjadi di masa kini, "semua bertanggung jawab atas semua yang terjadi". Sebagai mahasiswa gue ngerasa dosen ikut bertanggung jawab terhadap mahasiswa yang sakit jiwa, sebagai dosen mungkin gue ngerasa mahasiswa bertanggung jawab atas dosen yang sakit hati. Lepas dari saling lempar tanggung jawab pada akhirnya toh kita juga yang ngerasain akibat dari perbuatan kita. Ada masanya kita harus merasa bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Lo kayak gini ya karena lo kayak gitu, lo kayak gitu yang emang lo kayak gini.

Orang jaman sekarang terlalu banyak tahu tentang sejarah, cerita yang lalu, perjuangan, kematian, perang, dll. yang akhirnya membuat mereka bebas memilih, milih bertahan dengan apa yang lo anggap baik, atau milih apa yang lo anggep aman. Sejarah mengatakan kalau yang baik itu gak pernah enak, aman itu ngikut aja, jahat itu enak. Kenyataan yang terjadi juga mengatakan "dibunuh itu mati", "ngebunuh, lo bisa tetap hidup", "penjahat lebih banyak tertawa, sekali merengut langsung mati (hidupnya enak, matinya gak enak). Kalau mahasiswa lama memberikan contoh menjadi "penurut" dan "cari aman", jangan ngelecehin adek-adeknya kalau juga ikutan cari aman dan cari dosen biar tambah aman. Semua saling terkait, sebab akibat udah jadi hukum alam.

Orang yang memilih aman adalah saksi betapa mengerikannya kekuasaan mewujudkan kehendaknya, menjadi saksi betapa lemahnya kebaikan berdiri melawan, menjadi saksi betapa bodohnya perlawanan, betapa tersiksanya memilih aman.


Minggu, 14 April 2013

Remaja Malam

Malam hari bagi sebagian orang menjadi waktu yang tepat untuk berfikir, merenung, ibadah. Remaja biasanya memanfaatkan waktu malam untuk bermain, karena siangnya sibuk belajar. Gue semalem main, tapi bukan sebagai remaja, sebagai temen yang nemenin temennya yang gak tau mau ngapain, "ngapain sih?" tanya gue, dijawab, "menikmati malam", azeek, padahal udah pagi pukul 2.

Di kota (kota??) Bandar Lampung ada tempat yang biasa dipakai anak-anak sampai om-om untuk nongkrong, ngabisin duit, waktu, dan umur. Namanya PKOR. Di tempat ini gue sama temen-temen semalem kumpul untuk... ya... menikmati pagi gue rasa.

Gue ngeliat banyak anak-anak remaja, SMP mungkin, atau SMA, cewe cowonya sama aja.. ngantuk semua matanya. Ini pikir gue orang tuanya dimana coba. Ada anak cewe disamping gue yang bilang kayak gini ke temen-temen cowonya, "sampai kapan woy kalian ini kayak gini", salah satu temennya jawab, "Hahahaha", gue jawab, "itu bukan jawaban."

Itulah remaja malam, bawa mobil bokapnya, bawa duit orang tuanya, buat pamer. Ada yang gak punya duit, gak punya mobil, tapi punya temen, temennya bawa mobil sama duit bokapnya, buat pamer. Sama kayak gue dulu, sama kayak temen-temen gue dulu, kita keluar malem buat maen karena siangnya habis di sekolah. Orang tua gak salah, kalaupun salah ya terserah orang tua mau ngaku salah atau gak.. kadang orang tua percaya aja gitu kalau anaknya bilang, "tidur di rumah teman, ada tugas".

Kalau mau salah, terlalu banyak yang harus disalahin. Orang tua, guru, pemerintah, ibu-ibu penjual rokok dan minuman, polisi, ustad, tokoh agama, dll. Ujung-ujungnya tetap aja lo bakal bilang, "ah goblok banget sih gue", itu bagus, minimal lo sadar lo yang salah.

Ada masanya mereka ini, termasuk gue, akan berada di posisi jenuh, dimana semuanya terasa bosan, sia-sia, dan mulai untuk berbenah. Tapi itu gak mudah.. sama kayak lo yang biasa nulis make tangan kanan tiba-tiba harus menulis dengan tangan kiri, tentunya dengan tulisan yang lebih bagus. Hidup itu memang gak mudah, gak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi kalau lo udah gak punya tangan.

Solusi dari gue sih, buat lo lo yang terlanjur benci dengan sekolah, pengen bebas, coba dhe lo cari kebebasan yang menghasilkan manfaat. Bisa dengan karya, hobi, musik. Cari fokus yang bisa membuat lo lebih baik dari sekedar buang-buang waktu untuk balas dendam karena udah dijajah oleh sistem pendidikan. Pendidikan perlu, untuk buat orang tua lo bahagia.. tapi kebahagiaan lo kan juga harus dipikirin. Siapa tahu bisa buat semua orang yang lo sayang bangga. Bangga itu seperti bahagia yang berbonus.

Remaja malam, kalian salah. Tapi yang nyalahin kalian belum tentu bener. Bener itu kalau kalian menjadi remaja malam yang sadar atas kesalahan, berbenah, cari prestasi. Belajar bisa dimana aja kok, gak harus di sekolah. Di jalanan mungkin. Atau di kesalahan, lo juga bisa belajar :p.


Sabtu, 13 April 2013

Missing Link


Di buku 8th Habbit, entah siapa pengarangnya gue lupa, ada tulisan dari siapa namanya gue juga lupa, yang bunyinya kurang lebih kayak gini, "1000 bayi terlahir cerdas, tapi setelah mereka tumbuh dan berkembang, 999 bayi tadi menjadi bodoh karena orang dewasa".

Terus pamannya teman gue pernah bilang, "Republik ini bakal lebih baik kalau yang tua-tuanya pada mati". Entah apa hubungannya dengan kutipan sebelumnya.

Gue rasa gue dan agnes monica waktu lahir kedunia sama-sama nangis dan tangisan agnes gak lebih bagus dari tangisan gue. Tapi sekarang suara agnes lebih bagus dari suara gue.

Temen gue namanya Yudi pinter banget matematika, seharusnya gue juga pinter, karena Yudi dan Gue tanggal dan bulan lahirnya sama, dan kami berdua sama-sama nangis waktu pertama kali ngeliat dokter.

Seperti kutipan pertama di atas, kita itu sama, sama-sama cerdas waktu pertama kali dilahirkan. Saking cerdasnya, kita nangis karena dipegang oleh tangan dokter yang (mungkin) 100 kali lipat lebih bodoh dari kita.. mungkin pas kita dipegang dokter ada link yang hilang akibat muka dokternya mungkin, atau ada link yang rusak akibat cahaya lampu rumah sakit. Itu mungkin...

Yang pasti semua orang hidup dan selama hidupnya banyak link-link yang hilang. Misal, gue pemalu banget orangnya, bisa jadi karena link percaya diri gue hilang gara-gara orang tua gue gak ngejaga kepercayaan diri gue... yang akhirnya membuat kepercayaan diri gue pergi entah kemana.

Orang tua sangat bertanggung jawab menjaga dan mendidik anaknya diusia kecil, karena di usia ini semua kemampuan luar biasa yang tuhan berikan masih sangat hijau, perlu dipupuk, dirawat, dijaga, dan buahnya akan si anak (bahkan orang tua) panen ketika si anak telah dewasa.

Tapi gak seru juga kalau semua orang di dunia ini pintar, mungkin akan terjadi saling klaim atau rebutan klaim (seru sih). Bisa aja Gue dan Yudi saling klaim siapa yang paling pintar, bisa jadi guru SMA gue lempar koin untuk nentuin siapa juara 1 dan juara 2.

Mungkin emang ini sudah jalan yang Tuhan berikan, sudah jalannya kita kehilangan Link. Dan bisa jadi kasus hilangnya link ini menjadi cikal bakal diutusnya Rasul ke dunia. Untuk dijadikan contoh, "ini lho contoh manusia yang normal, yang kemampuan luar biasanya tetap terjaga dalam dirinya". Menurut gue lagi nih..., aneh rasanya kalau muslim bersedekah dengan alasan mencontoh rasul sehingga mereka tidak menghargai si non muslim yang bersedekah, orang bersedekah ya emang itulah yang seharusnya, berkata baik ya emang itulah kata-kata yang seharusnya manusia keluarkan. Tuhan mengatakan dalam kitab suci, berulang-ulang (kayaknya), "sesungguhnya Muhammad itu hanyalah manusia biasa seperti kalian". Bedanya, Rasulullah saw ini diutus Tuhan untuk keperluan menyadarkan manusia-manusia yang sudah terlalu banyak kehilangan Link di dalam dirinya. Masyarakat Jahiliyah mungkin dulunya telah kehilangan link kesopanan, link kesehatan akal, link logika sehat, link menghormati. Atau link sifat baiknya rusak dan menjadi buruk, link sifat bangga rusak menjadi link kesombogan. Semuanya disebabkan oleh generasi sebelum mereka.

Semua yang terjadi di hidup lo, coba inget-inget lagi, pasti akan menjelaskan kenapa lo seperti sekarang. Kalau lo homo, coba lo inget lagi mungkin dulu lo disodomi waktu kecil. It's reallity, jadi jangan ditutupi.

Gue rasa gue gak perlu ikutin apa yang Yudi atau Agnes lakukan sehingga menjadikan mereka lebih unggul dari segi suara dan matematika daripada gue, karena link-link yang hilang di gue beda dengan yang hilang di mereka. Jelas, kehidupan gue gak sama dengan mereka, orang tua gue beda dengan orang tua mereka, temen-temen gue juga beda, lingkungan gue beda, bahkan agama kami beda. Hmmm.., Gue lebih sopan dari agnes, dia lebih cantik aja. Hehee.., Perhitungan Yudi bagus, Tapi gak lebih bagus dari pemikiran gue.

Intinya, kita itu gak usah dhe pengen jadi ini pengen jadi itu, just be your self aja. Syukuri pengalaman yang diberikan Tuhan selama hidup lo. Sekarang tinggal gimana caranya lo petik buah dari Link luar biasa yang masih tersisa di dalam diri lo.

Kita punya peran masing-masing.