Jalur Gaza adalah masalah umat islam dan jangan lupa kalau itu Jalur Gaza juga masalah dunia, yah... gue tahu, tapi bukan satu-satunya masalah gue, lo, dan kalian keseluruhan. Masalah terbesar kita bukan umat muslim di Jalur Gaza, bukan palestina, melainkan masalah itu sangat dekat dengan kita, masalah kita adalah diri kita sendiri. Ngapain lo sibuk marah-marah dengan pemerintah agar supaya pemerintah memberikan keputusan untuk menentang Israel, siapapun gak perlu disuruh untuk contra terhadap permasalahan perang di Jalur Gaza, kalau mau kontra silahkan kalau gak yaudah.
Banyak banget foto-foto yang memperlihatkan korban, mata hilang, kepala tinggal sebelah, anak kecil berdarah-darah, semuanya dipamerin dengan harapan kita sedih, yang melihat terpacu untuk peduli, dan yang pasti itu nambah masalah bagi yang melihat. Kenapa mesti dipamerin, semua orang tahu bentuknya tubuh ini kalau kena rudal, gak perlu dipamerin. Gue risih banger liatnya, kenapa gak sekalian aja dilihatin pelacur lagi melacur dikontrakan sebelah rumah lo, itu lebih real dan mungkin untuk lo benahi.
Nyalahin SBY lah atas keadaan Jalur Gaza, SBY itu tanggung jawabnya di Indonesia aja masih kewalahan, gak usah ditambahin beban, dan gak mungkin juga SBY mau repot-repot peduli kepada muslim palestina sementara banyak banget muslin di Negara ini yang saling membakar, bentrok, dan korban moral betebaran di kos-kosan dan desa-desa terkucil.
Konflik Jalur Gaza itu kita jadikan motivasi untuk selalu bersyukur karena kita tidak diberikan kondisi seperti itu, manjadikan kita menghargai waktu yang nyaman, menghargai kehidupan, menghargai Indonesia... paling tidak indonesia mampu memayungi rakyatnya dari penindasan dan penjajahan. Jangan merusak kedamaian yang diberikan hanya karena kedamaian yang rusak yang kita saksikan lewat televisi, ribuan kilo jaraknya dari ruang tamu lo, sementara ibu lo pusing liat anaknya marah-marah depan tipi. Tolonglah mereka yang terjangkau oleh uluran tangan lo, perhatikan yang bisa lo liat dengan mata kepala dan tersentuh, yang tak tersentuh didoakan.
Ini pikiran sederhana gue, tapi yah masuk akal... jauh jalan menuju Jalur Gaza, karena lo di rumah, rumah lo di Indonesia, saudara lo diseluruh dunia. Kita butuh diri yang berakhlak mulia, tenang, dan tawakal,berilmu baru kita dibutuhkan oleh mereka. Benahi diri ini dulu, kalau udah merasa sebagai pribadi yang baik, siap, maka lakukan lah yang lo mau lakukan, hasil dari yang lo lakukan nantinya akan membuktikan seberapa baik dan siapnya diri lo tadi.
Rabu, 21 November 2012
Selasa, 23 Oktober 2012
HAM di Lampung
HAM itu singkatan, aslinya Hak Asasi Manusia. Disini gue mau ngebahas tentang HAM di Lampung. Beda dengan Jakarta dan sekitarnya, Lampung dan sekitarnya atau mungkin semua daerah di selain jawa, masih hidup di jaman Orba. Tapi bedanya, kalau dulu wartawan dibungkam karena takut, sekarang di daerah non pulau jawa, wartawan dibungkam dengan uang. Kalau kata teman gue, "wartawan itu kalau disuruh ngeliput, diakhir smsnya ada kode 'ADO IDAK'. Yang artinya ada duit nya gak". Wartawan dibungkam oleh uang, rakyat kecil dibungkam oleh kekuasaan.
Ini cerita singkat, ada hubungannya dengan hak manusia yang asasi (dalam hal hak milik dan bicara). Cerita ini dari teman gue yang kebetulan survei siswa berprestasi di kampung-kampung. Kata teman gue dia bertemu aktivis, sebut saja namanya Munar (biar lebih dramatis; diambil dari nama munir). Nah si munar ini menuntut hak tanah hutan register yang dicaplok oleh perusahaan besar, inisialnya BW. Tanah register ini telah didirikan perusahaan besar, entah izin dari siapa pokoknya tahu-tahu kawasan perusahaan menggeser sebagian pemukiman dan salah satu yang tergusur adalah bengkel pak Munar. Sejak saat itu pak munar menuntut perusahaan tersebut, sampai-sampai beliau dijanjiin akan diberi uang 1 M asal mau diam. Tapi pak munar tidak mau. Beliau terus mencoba mencari bantuan, wartawan, jaksa, dan kepolisian, tapi hasilnya nol besar, hal ini disebabkan karena para jaksa dan yang lain-lainnya tadi pada minta uang suap. Emang dasar kampret semuanya..., sepakat? Oke sepakat...
Ini terjadi di Lampung, sekarang, bukan di jaman Orba. Ini terjadi...
Bahkan pak Munar pernah di tembak dari belakang namun peluru meleset. Dan ketika beliau tidak mau ditawari uang 1 M, beliau sempat diberi racun (kata beliau) di gelasnya, namun tiba-tiba saja gelasnya pecah. Ini seperti di film-film, dimana pahlawan hoki nyawa..
Kebenaran peristiwa ini ditangan Tuhan dan Pak Munir serta teman gue mungkin yang tahu, gue hanya penyampai. Bukan tanpa alasan, gue berani nulis karena lingkungan lampung terasa seperti itu, dimana masih ada ancaman-ancaman dan diam. Contoh aja dhe di Kampus gue, Mahasiswa di ancam keris sama Pembantu Dekan karena protes pemilihan genernur fakultas dilakukan secara aklamasi sepihak. Banyak lagi kok.., Dosen gue pernah ngancem mahasiswa seperti ini, "siapa yang tidak ikut aturan dosen jurusan nanti kuliahnya akan dipersulit".
Seperti ini Lampung..., tempat lo gimana??
Ini cerita singkat, ada hubungannya dengan hak manusia yang asasi (dalam hal hak milik dan bicara). Cerita ini dari teman gue yang kebetulan survei siswa berprestasi di kampung-kampung. Kata teman gue dia bertemu aktivis, sebut saja namanya Munar (biar lebih dramatis; diambil dari nama munir). Nah si munar ini menuntut hak tanah hutan register yang dicaplok oleh perusahaan besar, inisialnya BW. Tanah register ini telah didirikan perusahaan besar, entah izin dari siapa pokoknya tahu-tahu kawasan perusahaan menggeser sebagian pemukiman dan salah satu yang tergusur adalah bengkel pak Munar. Sejak saat itu pak munar menuntut perusahaan tersebut, sampai-sampai beliau dijanjiin akan diberi uang 1 M asal mau diam. Tapi pak munar tidak mau. Beliau terus mencoba mencari bantuan, wartawan, jaksa, dan kepolisian, tapi hasilnya nol besar, hal ini disebabkan karena para jaksa dan yang lain-lainnya tadi pada minta uang suap. Emang dasar kampret semuanya..., sepakat? Oke sepakat...
Ini terjadi di Lampung, sekarang, bukan di jaman Orba. Ini terjadi...
Bahkan pak Munar pernah di tembak dari belakang namun peluru meleset. Dan ketika beliau tidak mau ditawari uang 1 M, beliau sempat diberi racun (kata beliau) di gelasnya, namun tiba-tiba saja gelasnya pecah. Ini seperti di film-film, dimana pahlawan hoki nyawa..
Kebenaran peristiwa ini ditangan Tuhan dan Pak Munir serta teman gue mungkin yang tahu, gue hanya penyampai. Bukan tanpa alasan, gue berani nulis karena lingkungan lampung terasa seperti itu, dimana masih ada ancaman-ancaman dan diam. Contoh aja dhe di Kampus gue, Mahasiswa di ancam keris sama Pembantu Dekan karena protes pemilihan genernur fakultas dilakukan secara aklamasi sepihak. Banyak lagi kok.., Dosen gue pernah ngancem mahasiswa seperti ini, "siapa yang tidak ikut aturan dosen jurusan nanti kuliahnya akan dipersulit".
Seperti ini Lampung..., tempat lo gimana??
Langganan:
Postingan (Atom)