Sabtu, 29 September 2012

PERBEDAAN

Pebedaan itu adalah suatu kewajaran, tidak ada yang bisa menolaknya. Manusia sebagai makhluk, bahkan semua makhluk, memiliki perbedaan dalam hal apapun, persamaan mereka hanya satu…., sama-sama menjalani hidup dalam perbedaan, tugas mereka dalam hal ini adalah menjalani hukum yang sudah ditetapkan oleh Tuhan dalam menghadapi perbedaan.

Agama mengajarkan kita untuk memahami sebelum mengimani, hal inilah yang menjadi hukum dalam perbedaan. Kita diwajibkan untuk memahami terlebih dahulu sebelum merespon perbedaan, hasil dari memahami adalah benar. Perbedaan kuncinya adalah kesesuaian, oleh karena itulah sesuatu yang beda harus disesuaikan agar bersatu. Antara mur dan baut misalnya, mur bentuknya lubang, sedangkan baut adalah batangan, keduanya berbeda namun akan cocok asal lubang dan diameter batang sesuai. Pernah berfikir.., bahwa yang menyesuaikan baut dan mur adalah manusia, manusialah yang membuatnya, begitu pula cincin pernikahan kedua pasangan lah yang memilihnya agar sesuai dengan jari manis pasangannya masing-masing, tapi kenapa kita sebagai manusia masih saja mempermasalahkan perbedaan padahal kita juga lah yang berperan dalam menyesuaikan perbedaan itu.

Manusia cenderung pecah oleh perbedaan karena mereka memiliki pikiran, dan akal sangat jarang mereka gunakan. Pikiran akan memproses daya berfikir, sedangkan akal akan terbentuk apabila daya berfikir dan hati menyatu. Menurut Prof. M. Quraish Shihab: “Sekali lagi, “akal” bukan hanya daya pikir, melainkan gabungan sekian daya pada diri manusia yang menghalanginya terjerumus ke dalam dosa dan kesalahan. Karena itulah dia dinamakan oleh al-Qur’an sebagai ‘aql (akal) yang secara harafiah berarti tali, yakni yang mengikat nafsu manusia dan menghalanginya terjerumus ke dalam dosa, pelanggaran, dan kesalahan.

Pikiran manusia adalah awal sampainya rangsangan, disinilah akal beerfungsi untuk mengikat rangsangan dengan hati sehingga akan lahir sebuah tanggapan yang baik. Banyak sekali rumah tangga, pertemanan, kesatuan bangsa, yang pecah hanya karena pemikiran-pemikiran yang bersifat pribadi dan kelompok. Bukankah manusia itu makhluk social, saling membutuhkan, saling tergantung dalam kehidupan keduniawian, seharusnya kita sadar kalau pemikiran pribadi, pendapat pribadi atau kelompok haruslah berasas sosial, mufakat, dan berhenti di titik tengah agar ditemukan kesesuaian. Kadang keduniawian dicampur aduk, bahkan dipaksa untuk dimasukkan unsur keilahian, karena itulah banyak sekali perang yang disebabkan oleh agama. Padahal agama yang benar akan mengajarkan umatnya untuk mencintai ciptaan-Nya.

Pencampur-adukan duniawi dan ilahiah dalam tatanan sosial akan menyebabkan dunia yang bersifat ilahi atau ilahi yang berkepentingan duniawi. Banyak sekali kejadian di masa awal kepemimpinan sepeninggal Rasul yang memanfaatkan agama dan kekayaan sebagai alat mendapatkan simpatisan dan kekuasaan, sekarang pun masih terlihat samar, akan selalu samara hingga yang jernih mendapat pembelaan secara demokrasi (hati nurani rakyat bukan oligarki).
Sayangnya hati nurani tertekan oleh faktor pikiran picik yang dibudayakan oleh kebanyakan manusia. Seandainya kita bisa menyikapi perbedaan dan berhenti di titik tengah, mungkin dunia ini, atau yang kecil saja dulu, bangsa ini akan hidup dalam persatuan, akan hidup dalam keseimbangan, akan hidup dalam keyakinan, kepercayaan, dan iman. Tidak ada kebenaran yang satu dalam kelompok yang banyak, tapi ada kesepakatan yang satu dalam kelompok yang banyak. Tidak ada satu orang pun yang mampu mengeluarkan kata yang bisa diterima dan dipatuhi oleh berbagai macam perbedaan keyakinan, pikiran, dan perasaan, tapi hanya ada satu Tuhan yang Maha Kuasa dan Bijaksana yang suatu ketika akan menjelaskan dengan sebenar-benarnya apa yang kita perselisihkan. Kita punya tanggung jawab kepada-Nya, karena yang kita terima adalah pemberian-Nya, layaknya seorang ibu yang bertanya kepada anaknya: “Kau apakan uang yang tadi ibu beri”

“Kau apakan hati dan pikiranmu?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tuliskan komentar anda