Selasa, 15 November 2011

Tragedi Hari Kamis dan Sahabat

Tadi gue ngajak Temen gue diskusi tentang Syiah, tapi temen gue langsung bilang kalau Syiah sesat. Temen gue adalah Sunni, entah kenapa kebanyakan orang bilang Syiah sesat dan dia, temen gue, taunya kalau Ahlul bait itu seorang penyampai, dan penyampai itu, kata temen gue, adalah para sahabat, dan dia menyebutkan nama Umar bin Khattab. Lalu gue tanya apakah dia (temen gue tadi) tahu tentang Tragedi Hari Kamis dan Sahabat, temenngue jawab dia tidak tahu.

Buat temen gue ini dia ceritanya.....(berdasarkan tulisan Dr. Sayyid Muhammad al-Tijani al-Samawi yang berjudul Akhirnya kutemukan kebenaran

Berikut ini adalah uraian peristiwa secara ringkas:

Tiga hari menjelang wafatnya Nabi SAWW para sahabat berkumpul di rumah Rasul SAWW. Nabi yang mulia memerintahkan mereka untuk mengambil kertas dan dawat agar dituliskan kepada mereka suatu wasiat yang akan memelihara mereka dari kesesatan. Namun para sahabat berselisih. Sebagian mereka enggan mematuhinya dan bahkan menuduhnya telah meracau sampai Nabi marah sekali dan mengusir mereka dari rumahnya tanpa menuliskan apa-apa. Perinciannya adalah sebagai berikut:

Ibnu Abbas berkata:

"Hari Kamis, oh hari Kamis. Waktu Rasul merintih kesakitan, beliau berkata, mari kutuliskan untuk kalian suatu pesan agar kalian kelak tidak akan tersesat. Umar berkata bahwa Nabi sudah terlalu sakit sementara AlQuran ada di sisi kalian. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. Orang yang berada dalam rumah berselisih dan bertengkar. Ada yang mengatakan berikan kepada Nabi kertas agar dituliskannya suatu pesan di mana kalian tidak akan tersesat setelahnya. Ada sebagian lain berpendapat seperti pendapatnya Umar. Ketika pertengkaran di sisi Nabi semakin hangat dan riuh Rasul pun lalu berkata, 'Pergilah kalian dari sisiku!' Ibnu Abbas berkata: 'Tragedi yang paling menyayat hati Nabi adalah larangan serta pertengkaran mereka di hadapan Rasul yang ingin menuliskan suatu pesan untuk mereka.'(1)

Peristiwa ini benar-benar terjadi. Para ulama, ahli hadis dan ahli sejarah Syi'ah dan Sunnah mencatat riwayat ini dalam buku-buku mereka. Dan ini harus kuterima lantaran ikrarku dan janji yang telah kubuat. Di sini juga aku merasa sangat heran atas sikap yang ditunjukkan oleh Umar terhadap perintah Nabi SAWW. Perintah apa? Sebuah perintah yang akan menyelamatkan ummat ini dari kesesatan. Tidak syak lagi bahwa wasiat tersebut menyirat sesuatu yang baru bagi kaum muslimin dan akan menghapuskan segala keraguan yang ada dalam diri mereka.

(1). Shahih Bukhori jil.2 dan 5 Hal. 75; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 1 hal. 355; jil. 5 hal. 116; Tarikh Thabari jil.3 hal. 193; Tarikh Ibnu Atsir Jil. 2 hal. 320.

Kita tinggalkan pendapat Syi'ah yang berkata bahwa Nabi sebenarnya ingin menuliskan nama Ali sebagai khalifahnya lalu Umar lebih cerdik dan segera melarangnya. Karena tafsiran mereka seperti ini tidak dapat kita terima sejak awal. Tetapi apakah kita mempunyai tafsiran lain yang logis dari peristiwa yang menyakitkan hati ini, sampai Nabi marah dan mengusir mereka dari kamarnya. Bahkan menyebabkan Ibnu Abbas sedemikian banyaknya menangis sehingga membasahi tanah. Beliau menyebut peristiwa ini sebagai tragedi yang paling besar.

Ahlu Sunnah juga berkata bahwa Umar melakukan semua itu justru karena dia merasakan penderitaan Nabi dan tidak ingin membebankannya lebih banyak. Namun tafsiran seperti ini tidak dapat diterima hatta oleh orang awam, apalagi orang-orang yang alim. Aku berkali-kali berusaha mencari alasan untuk memaafkan Umar, tetapi realitas kejadian enggan menerimanya, sekalipun kalimat "yahjur" (meracau) telah diganti oleh perawi (semoga Allah melindungi kita) dengan kalimat "ghalabahul waja'" (karena terlalu sakit). Kita juga masih tidak akan dapat menemukan alasan apologis lain atas kata-kata Umar, "'Indakum AlQuran" (disisi kalian ada AlQuran) dan "Hasbuna Kitabullah" (cukup bagi kami Kitab Allah). Apakah beliau lebih arif tentang AlQuran daripada Nabi yang telah menerimanya, atau Nabi tidak sadar apa yang diucapkannya? (Semoga Allah melindungi kita). Atau Nabi ingin meniupkan api perpecahan dan pertengkaran dengan perintahnya ini? Astaghfirullah!

Kalau memang tafsiran Ahlu Sunnah ini benar, maka Rasululllah akan tahu niat baik Umar ini dan akan berterima kasih padanya. Bahkan beliau akan lebih mendekatkannya daripada harus marah dan berkata, "Keluarlah kalian dari kamarku!"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tuliskan komentar anda